Namun terkadang ada saja yang bilang “untuk melakukan sebuah perubahan perlu sebuah kekerasan bahkan matipun tidak mengapa”. Kenapa? Banggakah kita melakukan perubahan dengan kekerasan, bukannya mendamaikan namun kita telah menanamkan rasa itu (kekerasan) dalam setiap benak anak negeri, agar kalau ingin berubah perlu kekerasan. Bagaimana dengan mereka yang ingin menerapkan syariat Islam di negeri ini, perlukah mereka memberontak agar bisa berubah dan bisa di dengar oleh pemerintah.
Kita boleh saja berteriak, berorasi asal sesuai dengan peraturan yang belaku namun haruskah kita melakukan tindakan melanggar hukum bahkan sampai melakukan pembakaran dalam menyampaikan pendapat. Mari bergerak untuk membangun negeri dengan sebuah pemikiran yang revolusioner tanpa harus melakukan kekerasan.
Rakyat ini sudah lelah melihat pertikaian antar sesama yang hanya menguntungkan pihak lain. Sudah terlalu parah negeri ini bertikai, bila tidak senang maka bermusuhan. Kita semua adalah korban dari liberalisme dan sudah saatnya kita bersatu membangun negeri ini tanpa harus mengedepankan fisik namun dari pikiran dan hati. STOP KEKERASAN.
![shaleholic [dot] com - Berbagi lewat Blog](http://shaleholic.com/wp-content/uploads/2012/03/logox.png)
bangsa kita baru belajar berdemokrasi… lagi mabuk kebebasan yg kadang malah jadi bumerang. ibarat balita yg baru bisa jalan, ia berlarian ke sana kemari nabrak meja, mecahin vas bunga, bikin rumah kayak kapal pecah. tapi nanti sedikit meningkat lebih dewasa saya yakin ia bakal berjalan dan berlari lebih teratur dan hati2, gak lagi nabrak kiri kanan apalagi sampai bikin rumahnya porak poranda
setuju sayang…
aku dukung kamu ya..hehehe
KATA USTADZ SAYA :demokrasi tuh ajaran yahudi nangai”
aku tuh kada paham jua demokrasi tuh kaya apa,,,
pat berkomentar naray ,boleh kada?
Suka nonton democrazy juga ya??