PARADOKS BUDAYA ORANG BANJAR
Urang Banjar yang mengatakan dirinya agamis pasti tahu bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman tapi sudahkah mereka mengamalkannya. Kita bisa melihat hal-hal bertentangan dengan itu. Misalnya kebersihan sungai. Kita tahu bahwa sungai begitu penting dalam kehidupan urang Banjar teruatama urang yang berdiam di â€pesisir†sungai (diberi kata pesisir karena ada nama pantai jodoh walaupun dipaksakan). Saya pernah melihat dan juga mengalaminya, waktu itu saya mau berwudu di jamban di daerah hulu sungai. Namun tiba-tiba datang seseorang (dia orang dewasa) dengan merasa tidak â€berdosa†dia buang air. Padahal selain saya yang sedang berwudu, ada juga seorang ibu sedang mandi dan ada satu ibu lagi sedang memersihkan beras.
Dari hal di atas itu masyarakat Banjar sudah tidak menghargai akan kebersihan. Namun mereka sering beralasan tidak ada tempat lagi selain disitu padahal kita bisa merubah itu tentu dengan dukungan pemerintah. Misalnya menyediakan tempat MCK umum sehingga tidak perlu pergi ke jamban.
Selain masalah kebersihan di sungai, kebersihan di jalanan dan pasar juga tidak diperhatikan. Mereka dengan seenaknya membuang sampah di jalanan dengan melempar begitu saja. Mereka mengganggap bahwa kebersihan jalan dan pasar adalah tanggung jawab petugas kebersihan dan merasa tak perlu bertanggung jawab akan hal itu.
Selain diperintahkan mematuhi ulama, Islam juga memerintahkan umatnya untuk mematuhi peraturan yang dibuat oleh umara selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang terkandung dalam Al Qur’an dan hadist maka kita wajib mengikutinya.
Selain masalah kebersihan, urang Banjar juga termasuk urang yang tidak menyukai kedisiplinan. Kita bisa melihat bagaimana ketika mereka berkendaraan dan menaati peraturan lalu lintas.
Ketika mereka punya tujuan yaitu mengikuti pengajian atau salat, mereka dengan seenak tidak memakai peralatan berkendaraan terutama helm. Mereka merasa punya hak untuk melanggar untuk itu dengan alasan beribadah. Dengan bermodalkan pakaian muslim mereka leluasa “melenggang lenggok†di jalanan.
Selain itu, setelah pulang dari pengajian yang seharusnya kita mendapatkan ilmu dan berusaha untuk mengamalkannya. Namun mereka malah “menggangu†orang dengan “acara†kebut-kebutan di jalanan yang membahayakan orang lain dan juga dirinya.
Selain itu, muncul wabah yang melanda hampir semua orang Banjar yaitu konsumerisme. Padahal dalam budaya konsumerisme terselip rasa gengsi yang tinggi atau kisah paharatnya. Hal itu bisa dilihat bagaimana ketika mereka berbelanja, terkadang mereka membeli sesuatu yang tidak berguna dan terkesan mubazir. Hal itu terjadi karena mereka tidak ingin disambati kada mampu. Dari rasa paharatnya itulah akhir hilang rasa kekeluargaan dan gotong-royong. Mereka tidak peduli lagi dengan keadaan tetangga. Itu bisa dilihat bagaimana mereka acuh saja melihat ada seorang pria membawa wanita ke rumah padahal mereka bukan muhrimnya.
Mungkin demikian saja tulisan karena begitu banyak masalah yang melanda budaya Banjar, misalnya masalah bahasa Banjar, banyak anak muda sekarang melupakannya hingga ketika disuruh membaca sebuah kisah atau cerpen yang berbahasa Banjar, ia kebingungan karena tidak mengerti kosakata yang digunakan. Kemudian juga masalah sastra Banjar, misalkan ada pertunjukan kesenian seperti lamut atau madihin, kenapa hanya “orang tua†saja yang tertarik untuk menontonnya. Kemana para remajanya? . Saya tidak bermaksud memburukkan orang Banjar karena saya juga orang Banjar. Namun saya merasa prihatin dengan keadaan orang Banjar sekarang ini yang mulai kehilangan identitasnya. Saya punya sebait puisi untuk orang Banjar,
Banjar
Kota ulama yang hilang
Agama tak lagi terpandang
Karena semua tergantung uang
Tulisan berasal dari sini




Hanya seorang guru di pinggiran Kalimantan Selatan tepatnya di kecamatan Daha Selatan, Kab. Hulu Sungai Selatan. Untuk mengenal atau pasang iklan di blog ini silakan kirim email ke shaleh_1986@yahoo.com