Problematika Pendidikan di Indonesia

13 1305

Masalah pendidikan di negeri ini memang tak ada habisnya untuk dibahas namun saya mencoba untuk menuliskan kenapa pendidikan di Indonesia bisa bermasalah dan ini hanya pemikiran saya, hehehe :D. Masalah pendidikan di Indonesia muncul karena faktor-faktor berikut :

  • Pendidikan berorientasi Hasil

    Kenapa saya bilang pendidikan berorientasi hasil, lihatlah bagaimana nilai UN yang menjadi standar kelulusan. Siswa bisa dinyatakan lulus apabila telah memenuhi nilai minimal UN, tak peduli bagaimana hasil belajar siswa selama tiga tahun. Hasil akhir berupa Nilai UN menjadi harga mati bagi para siswa untuk bisa lulus namun tidak mengindahkan bagaimana cara mereka mendapatkan nilai itu. Setiap kali UN mau digelar, entah dari mana datangnya tiba-tiba saja tersebar bocoran jawaban UN padahal UN sendiri belum dilaksanakan. Belum lagi masalah ketika ada guru yang dengan sengaja membantu siswanya agar bisa lulus dengan memberikan jawaban UN atau dengan cara mengubah jawaban siswa sebelum hasil UN itu dikirim. Selalu ada kecurangan setiap kali digelar UN, entah kenapa itu bisa terjadi?. Namun seperti saya katakan tadi, pendidikan kita tak peduli proses bagaimana mereka bisa mencapai hasil tapi lebih menyukai hasilnya. Pendidikan semacam ini sebenarnya secara tidak langsung mengajar pada siswa bahwa apapun cara selama bisa mencapai hasil yang baik maka itu sah-sah saja. Jadi, jangan salahkan siswa yang ketika sudah besar mendadak jadi koruptor karena mereka 'sukses' menimba ilmu tentang pendidikan hasil, apapun caranya yang penting bisa kaya.

    • Pendidikan sama rata sama rasa

      Contoh pendidikan sama rata sama rasa ini masih berkiblat pada UN. UN yang soalnya sama seluruh Indonesia sebenarnya secara teori itu baik agar siswa merasa diperlakukan adil namun sebenarnya secara praktik soal yang sama seluruh Indonesia bukanlah hal yang baik. Kenapa? karena pendidikan antara Jawa dan luar Jawa, Kota dan Desa begitu berbeda. Jangan bilang bahwa guru harusnya lebih bisa kreatif, mudah mengatakan itu. Namun cobalah sendiri mengajar di daerah dengan fasilitas yang sangat seadanya dan untuk menuju sekolahnya harus jalan kaki, naik perahu, naik gunung, melewati sungai dan lainnya dan itu tidak sepadan gaji yang diterima. Lalu akan ada yang berkata, Kan sudah ada sertifikasi? Benarkah sertifikasi sudah menyentuh semua guru yang ada di pedalaman atau hanya sampai pada guru yang ada di kota saja. Itu baru masalah sarana dan prasarana yang sangat berbeda antara kota dan desa. Faktor ekonomi siswa juga menjadi faktor penentu bahwa pendidikan tidak bisa di samarata dan di samarasa. Kalau di kota, mungkin rata-rata orang tuanya mampu untuk membiayai sekolah jadi anaknya memang bisa dikhususkan untuk belajar saja, tapi tidak di desa. Dengan keterbatasan ekonomi orangtuanya, terkadang mereka harus membantu untuk bekerja demi sesuap nasi dan pada akhirnya mereka akan ijin tidak masuk sekolah. Dengan perbedaan yang begitu besar antara Jawa dan Luar Jawa, Kota dan Desa, haruskah soal UN itu disamakan dan pada akhirnya hanya akan menjadi beban bagi guru-guru di daerah karena mereka merasa tak mampu mengikuti target yang ditentukan karena keterbatasan sarana dan prasarana, tingkat pemahaman siswa, keadaaan ekonomi siswa dan lainnya. Belum lagi isi perangkat pembelajaran yang digunakan juga berbeda karena harus disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing. Perangkat pembelajarannya saja disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing lalu kenapa soalnya harus sama rata sama rasa.

      • Pendidikan Kota dan Desa

        Pendidikan kota dan desa memang mayoritas berkisar pada masalah sarana dan prasarana  sekolah karena sebagaimana diketahui hal itu menjadi salah satu hal penting kenapa sekolah di kota lebih maju daripada di desa. Sarana dan prasarana yang menunjang untuk kegiatan belajar mengajar sangat membantu siswa daripada yang sarana dan prasarananya tidak menunjang, minimal membuat gurunya lebih bersemangat dalam mengajar karena kelengkapan fasilitasnya.

        Demikianlah pemikiran saya tentang masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia. Kalau pemikiran ini dianggap salah, mohon maaf ini hanya pemikiran pribadi. Maju terus pendidikan Indonesia.

        Tabik

        Category: CoretanKuTags:
        author
        Seorang guru di pinggiran Kalimantan Selatan tepatnya di kecamatan Daha Selatan, Kab. Hulu Sungai Selatan. Mengajar di SMPN 4 Daha Selatan. Untuk mengenal atau pasang iklan di blog ini silakan kirim email ke shaleh17@gmail.com